Wednesday, May 20, 2020

[TRAVELRY] Japan Trip Part 1

Setelah menunggu lebih kurang 11 (sebelas) bulan sejak pembelian tiket pesawat akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba, saatnya saya pergi ke Jepang..!! *\(>.<)/* Pengalaman perjalanan saya ke Jepang kali ini saya lakukan bersama teman/keluarga saya yang sebelumnya sudah pernah pergi ke Jepang, sehingga perjalanan saya kali ini sangat berbeda dengan tipikal rute perjalanan turis "first timer" ke Jepang (Tokyo - Kyoto - Osaka) yaitu dengan tujuan Tokyo - Sapporo - Akita - Nagoya - Tokyo.



Perjalanan saya ke Jepang dimulai pada hari minggu, malam senin, dimana penerbangan saya terjadwal pada jam 23.40 W.I.B. (Waktu Indonesia Bagian Barat) di Bandara International Soekarno Hatta menggunakan salah satu maskapai penerbangan Indonesia dengan inisial 'GA', penerbangan malam ke Jepang memang dipilih selain karena selama perjalanan 7 (tujuh) jam 10 (sepuluh) menit dapat dinikmati dengan tidur, juga dengan tujuan agar pada saat kami sampai di Jepang yang diperkirakan pada pukul 08.50 JST (Japan Standart Time) kami sudah dapat memulai explore di negara matahari tersebut, sekalipun rencana kami untuk hari pertama di Jepang ditujukan untuk transit menuju Hokkaido dari Tokyo.

[TMI]
Selain perjalanan kali ini adalah jalan-jalan pertama saya ke Jepang, hari itu juga merupakan hari pertama saya menginjakkan kaki di terminal 3 Bandara International Seokarno Hatta.

Karena penerbangan yang saya gunakan adalah full service Airline jadi selama perjalanan saya mendapat snack malam dan makan pagi, untuk review snack dan makanan pesawatnya sebenarnya biasa aja sih, lumayan untuk menggganjel perut, tapi yang paling berkesan rasanya bagi saya sendiri adalah croissant yang merupakan paket makanan pagi apabila memilih menu omelette, croissantnya hot and buttery, mungkin karena juga baru selesai dipanaskan oleh pramugarinya, padahal secara bentuknya mirip croissant curah. Selain makanan yang disajikan jangan lupa untuk menikmati minuman yang disajikan oleh para pramugari, baik red/white wine atau beer yang mungkin bisa membantu anda untuk tidur selama perjalanan ke Jepang.


Jujur 'hype' pertama kali datang ke Jepang membuat saya kurang bisa tidur meski sudah dibantu dengan white wine, maklum pemula, tapi tenang selama perjalanan saya masih bisa menonton movie yang tersedia di pesawat, setelah akhirnya ketika jam telah menunjukan pukul 08.50 JST, sambil disambut hujan saya dapat teriakan Welcome to Japan, seneng banget akhirnya memginjakkan kaki di wilayah Asia Timur untuk pertama kalinya. Sambil menunggu pesawat parkir diterminal 3 (tiga) Haneda International Airport, saya mencoba menyalakan handphone saya untuk melihat koneksi internet dari SIM Card Jepang yang sengaja sudah pasang dan mengatur APNnya saat menunggu keberangkatan dari Indonesia ke Jepang dan ternyata koneksi internet langsung tersambung, akhirnya dapat resmi online di luar Indonesia untuk norak-norakan di story, karena dulu waktu saya pergi ke luar negeri pertama kali, saya tidak membeli paket data untuk online (masih jaman BBM).


Pada hari pertama ini saya mendarat di Tokyo, Jepang dan jadwalnya adalah kembali pergi terbang menuju Hokkaido, pulau utara di Jepang, jadi Bandara Internasional Haneda hanya menjadi tempat transit bagi saya. Untuk melanjutkan perjalanan saya menuju ke Hokkaido, saya dan keluarga memilih pergi dengan menggunakan pesawat terbang, hal ini dipilih karena selain waktu perjalanan yang lebih cepat dibandingkan dengan naik shinkansen/kereta api cepat, juga harganya lebih kurang sama tergantung pintar-pintar mencari diskon. Harga tiket pesawatnya sendiri untuk one way trip dari Tokyo Haneda ke Sapporo New Chitose waktu itu sekitar Rp. 1.450.000,- (satu juta empat ratus lima puluh ribu Rupiah) dengan jangka waktu penerbangan 1 (satu) jam 35 (tiga puluh lima) menit. Sedangkan untuk Shinkansen kurang lebih di sekitar ¥27.760 (dua puluh tujuh ribu tujuh ratus enam puluh Yen), harga tersebut sudah termasuk dengan perhitungan pemesanan kursi biar pasti dapat tempat duduk, tapi harga shinkansen ini dapat berkurang apabila kalian memesan Japan Rail Pass (JR Pass) dalam perjalanan kalian ke Jepang dan waktu yang diperlukan untuk perjalanan ini adalah kurang lebih 8 (delapan) jam 15 (lima belas) menit, dengan sekali transit di Shin-Hakodate-Hokuto Station sebelum akhirnya berhenti di Sapporo Station.


Dari waktu kami sampai di Bandara Internasional Haneda hingga waktu keberangkatan penerbangan ke Sapporo, Hokkaido terdapat jeda waktu 4 (empat) jam, waktu 4 (empat) jam ini memang kami pilih untuk mengurangi resiko apabila pesawat yang kami pakai mengalami delay dan tidak terlalu diburu-buru saat mengurus check-in, meski terdapat waktu yang lama kami memutuskan untuk mengurus check-in ke penerbangan domestik terlebih dahulu agar kami dapat sedikit menjelajahi Bandara Haneda. Untuk melakukan proses check-in ke penerbangan domestik ternyata sangat mudah. Setelah mendarat dan melewati imigrasi yang cukup cepat juga mengambil bagasi, kami keluar di lobby kedatangan international di terminal 3 lantai 2, untuk melakukan check in kami tinggal menuju Domestic Connecting Flight Counter yang posisinyaberada setelah pintu keluar dari ambil bagasi, ada di pojok kanan, di Domestic Connecting Flight Counter tersebut terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang masing-masing mewakili Airlines yang akan digunakan untuk penerbangan domestik, Airlines yang tersedia adalah JAL atau ANA, untuk airlines yang lain sepertinya harus melakukan check in langsung di Terminal Domestik. Karena kami menggunakan salah satu dari 2 Airlines tersebut makanya kami dapat melakukan check-in di Terminal 3 International.


Setelah proses Check-In selesai, kami memutuskan untuk menunggu di Terminal 2 Domestik tempat dimana pesawat kami akan boarding, untuk menuju terminal 2 dari terminal 3 terdapat beberapa cara, yaitu naik kereta lewat Keikyu line atau Tokyo Monorail atau naik free shuttle bus. Karena kami memilih naik Shuttle Bus maka kami tinggal menuju terminal shuttle bus di lantai 1 Terminal 3, yang mana cuma turun lift atau escalator yang posisinya dekat dengan Domestic Connecting Flight Counter, tempat kami check in.




Shuttle Bus membawa kami ke Terminal 2 lobby keberangkatan Bandara Haneda, yang ternyata didalam terminal 2 ini terdiri dari beberapa lantai, karena penerbangan kami masih cukup lama akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk makan siang di Bandara Haneda.

[TMI]

Pada saat merencanakan makan siang saya iseng membuka applikasi TripAdv untuk melihat kira-kira makanan apa yang direkomendasikan di daerah terminal 2 ini, yang ratingnya lumayan bagus adalah Monzaemon dengan review yang cukup unik, dimana reviewnya berkata satu-satunya restaurant di bandara yang keliatan ada antrian panjang. Berdasarkan bacaan tersebut saya hanya melihat saja karena untuk memutuskan mau makan di restaurant yang mana, harus di diskusikan bersama
-sama, saat membaca review itu juga tanpa tau dimana posisi restaurantnya, jadi saat sampai di terminal 2, rencana awalnya adalah pergi ke kamar mandi terlebih dahulu baru mencari makan siang, kami naik ke lantai 3 dimana merupakan 1 lantai diatas lantai untuk melakukan check in, dimana mulai banyak restaurant di lantai tersebut, posisi kamar mandinya ada di bagian kanan dari escalatornya, lalu beberapa orang pergi ke kamar mandi termasuk saya, setelah keluar dari kamar mandi terdapat satu restaurant yang ternyata terdapat antriannya yang lumayan panjang,  karena antriannya terlihat dari jalur pintu keluar kamar mandi, setelah bingung mau makan dimana, akhirnya kami semua memutuskan makan ditempat yang ada antriannya tersebut, dengan "prinsip kalau ada antrian panjang pasti makanannya enak", setelah makan di Monzaemon tersebut saya baru sadar kalau tempat makan yang saya lihat di TripAdv dan tempat makan yang saya makan adalah rumah makan yang sama dan alasan kami mampir adalah alasan yang sama dengan review tersebut. Jadilah my first meal in Japan is Tori Ten Soba "Soba with Chicken Tempura" dengan harga ¥880 (delapan ratus delapan puluh Yen), untuk pertimbangan pesanan ini bukan karena saya suka ayam goreng, saya tunjuk ini biar menunya beda dengan yang lain. Untuk makanannya dapat satu mangkok mie soba dan satu gelas cangkir, saya kurang tau isinya apa, tetapi rasanya seperti air beras.



Setelah selesai makan lanjutlah kita masuk ke gate untuk segera pergi terbang ke kota tujuan, yang saya rasakan pada saat boarding adalah terdapatnya perbedaan pengalaman pergi pakai pesawat domestik di Jepang dengan yang di Indonesia, untuk pesawat domestik di Jepang, pada saat masuk ke gate awal, kami kembali kami harus dicek barang-barang yang dibawa masuk, bagi kalian yang bawa botol air waktu itu si banyak ditaruh di tempat untuk disteril lagi, lalu boarding pass kita di periksa dan discan dan diberikan kepada kita 2 (dua) lembar tiket tambahan selain boarding Pass yaitu lembar kuning Security Certificate dan lembar merah Boarding Information, isi dari kedua lembar itu si pada dasarnya sama seperti Boarding Pass kita yang memberitahukan kita di Gate berapa, terogolong dalam Grup berapa dan nomor penerbangan. Ketiga lembar itu kita pegang yang akan di cek kembali pada saat mau masuk kedalam pesawat, saat mau masuk ke pesawatpun ada urutannya, mulai dari Grup 1 sampai Grup 4, yang biasa diawali member airlines tertinggi sampai akhirnya diakhiri pemegang tiket biasa seperti saya.


 1 (satu) jam 35 (tiga puluh lima) menit kemudian.


sampailah kami semua di New Chitose Airport, Hokkaido, sekitar kurang lebih pukul 15.00 JST, berbekal G-Maps kami melihat lokasi hotel dan mencari transportasi apa yang dapat kami gunakan, Kebetulan hotel kami adalah G Classe Hotel yang berlokasi di Minami 6 Jonishi, Chuo Ward, yang dimana untuk mencapai lokasi kami harus melakukan beberapa transit untuk sampai ke tujuan, G Classe Hotel dipilih karena selain terdapat keuntungan sebagai airbnb yaitu ada fasilitas mesin cuci, setrika dan tempat masak, juga karena muat untuk grup kami yang berjumlah 10 (sepuluh) orang. Perjalanan diawali dengan naik kereta JR menuju Sapporo Station, Chitose Line Airport Rapid ini dengan biaya sebesar ¥1.680 (seribu enam ratus delapan puluh Yen) untuk sekali perjalanan per satu orang. Sesampainya di Sapporo Station lanjutkan perjalanan untuk menuju Susukino station menggunakan kereta Tokyo Metro dengan Namboku Line tujuan Susukino Stasion, dengan biaya sebesar ¥210 (dua ratus sepuluh Yen), untuk pindah jalur dari JR Chitose line ke Sapporo Subway Namboku Line cukup mudah, tinggal lihat penanda yang tersedia, sangat mudah apalagi setiap line punya warna tersendiri sehingga apabila melihat petunjuk dari jauh atau ada garis berwarna di lantai tinggal ikuti warna khas line tesebut, untuk peron keretanya juga mudah, biasanya G-maps juga memberitahukan kereta kita ada di peron berapa, kalau belum yakin dapat juga mengafalkan station tujuan akhir dari line sesuai dengan arah yang kita tuju dengan contoh untuk menuju Susukino Station dari Sapporo Station carilah peron namboku line dengan tulisan for Makomanai. Pembahasan perjalan ke hotel kita lanjut lagi, setelah sampai di Susukino Stasiun kita lanjut keluar dari stasiun, sebenarnya dari stasiun ini dapat kita lanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki ke hotel dengan jarak lebih kurang 900 (sembilan ratus) kilometer tapi karena kami baru sampai di Hokkaido dengan beberapa koper, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke hotel dengan naik Sapporo Streetcar/Tram yang keretanya ada jalurnya ditengah jalan raya, yang mana ini jadi penggalaman pertama saya naik streetcar/Tram. Sebagai pengguna Streetcar/Tram di Jepang pertama kali ilmu baru yang saya dapat adalah bahwa kalau kita masuk tram dimulai dari tengah dan apabila kita mau turun kita pencet bel dan keluar lewat pintu depan yang mana ternyata hal ini juga berlaku pada saat kita naik bus umum di Jepang, sehingga jalur perjalanan streetcarnya akan mengarah dari kanan ke kiri, sehingga apabila anda ingin ke arah sebaliknya anda harus menyeberang jalan ke stasiun di seberang. yang arahnya dari kiri ke kenan apabila dilihat dari posisi sebelum menyebrang, maklum saya katro jadi baru ngeh hal-hal kecil seperti ini. Untuk Sapporo Shinden ini tarifnya sekali per ride, artinya jauh dekat harganya sama yaitu sebesar ¥200 (dua ratus Yen), sehingga tab kartu untuk pembayarannya dapat dilakukan pada saat kita mau turun, perjalanan Susukino Streetcar station menuju Higashi Honganji-Mae Streetcar Station dengan 2 (dua) pemberhentian ke arah kiri , yang ternyata masih dilanjutkan lagi jalan kaki dengan jarak lebih kurang 350 (tiga ratus lima puluh) meter dan akhirnya setelah perjuangan menyenangkan tersebut sampailah kami semua di G Classe Hotel, untuk hotelnya menurut saya cukup bagus, pemesanan hotel ini sebenarnya dilakukan lewat aplikasi aerbnb dan yang kami sewa adalah satu lantai tiga kamar yang letaknya di lantai tiga, untuk kalian yang penasaran sama tempat hotelnya bisa disearch sendiri di mbah Gugle, niscaya keluar *trust me its work*


Kalau melihat cerita diatas tentu terkesan sangat ribet saat menggunakan berbagai jenis transportasi yang memang beda perusahaan operatornya juga harus menentukan kita berhenti di statiun ke berapa dan harganya berapa, untuk memudahkan semua pembayaran tersebut maka untuk transaksi ini lebih baik menggunakan Integrated Circuit Card (IC Card), untuk IC Card jika dibandingkan dengan di Indonesia ini seperti Flazz/E-money, di Jepang sendiri IC Card banyak dikeluarkan oleh beberapa perusahaan dan disetiap daerahnya mempunyai namanya sendiri. Yang tentunya sangat terkenal adalah SUICA yang dikeluarkan oleh JR dan PASMO yang dikeluarkan oleh Tokyo Metro untuk wilayah Tokyo. Bagi kalian yang bukan pemegang Japan Railways (JR) Pass tentu akan bersahabat dekat dengan IC Card ini. Untuk pembelian IC Card ini biasa dapat dilakukan di stasiun terdekat, yang biasa beli di mesin tiket yang berjajar sebelum kita masu masuk ke stasiun kereta, saat pembelian terdapat biaya deposit sebesar ¥500 (lima ratus Yen), dimana biaya tersebut dapat kita lakukan refund apabila kita tidak memerlukan lagi IC Card tersebut. Hanya saja untuk refund perlu diperhatikan bahwa kartu tersebut dapat di refund di wilayah dimana kartu tersebut dikeluarkan, sebagai contoh dalam perjalanan saya kali ini datang melalui Haneda International Airport begitu juga dengan pulangnya maka saya lebih baik membeli IC Card pada saat di Tokyo, sehingga proses Refund IC Card menjadi lebih mudah. Seperti layaknya Flazz/e-Money, IC Card dapat juga digunakan untuk pembayaran di Sevel, Famima dan Lawson, bahkan beberapa vending machine yang tersebar banyak di Jepang. FYI meskipun hari pertama kami langsung pergi langsung ke Hokkaido tapi kami sudah membeli SUICA pada saat di Haneda, Tokyo. oh iya meskipun SUICA itu dikeluarkan oleh JR cabang Tokyo tapi tetap dapat digunakan dan dilalukan pengisian dana diseluruh Jepang begitu juga dengan berbagai IC Card yang dikeluarkan di beberapa daerah lainnya. Oh iya salah satu tips bagi kamu yang bawa uang Yen dari Indonesia dengan pecehan ¥10.000, dimesin tiket untuk beli atau top up IC Card ini terima pembayaran uang sampai pecahan tersebut, jadi bisa langsung dapat kembalian dengan pecahan Yen yang lebih kecil.

[TMI]
Saya pribadi khususnya memang dari awal ingin menjadikan IC Card Jepang sendiri sebagai memento saya pergi ke Jepang sehingga untuk pembelian IC Card ini memang saya tidak terlalu memikirkan mau beli dimana. Karena dalam perjalanan ini saya mampir ke Hokkaido, Akita, Nagoya dan Tokyo tentunya saya berusaha mencari memento IC Card ditempat yang jarang saya kunjungi oleh karena itu saya pribadi membeli IC Card di Hokkaido dan Nagoya yaitu KITACA yang dikeluarkan oleh JR Hokkaido, dimana KITACA sendiri warna kartunya abu-abu dengan gambar maskot tupai terbang Ezo momonga, yang ciri-ciri tupainya memang berbulu abu-abu dan TOICA yang dikeluarkan oleh JR Central, TOICA ciri khasnya ada desain seperti ombak wana baru dan yang terbaru terdapat icon anak ayam berwana kuning. Kelebihan menyimpan IC Card selain untuk kenang-kenangan adalah bahwa IC Card tersebut masih berlaku sampai 10 (sepuluh) tahun setelah kalian gunakan, artinya kalau kalian ternyata sampai 10 (sepuluh) tahun kedepan ada rencana mau ke Jepang lagi, kartu yang disimpan masih dapat digunakan. 

Sesampainya di Hotel saya langsung melanjutkan perjalanan untuk pergi makan, meskipun jam baru menunjukan pukul 17.35 JST beruntunglah di dekat hotel yang kami tinggal dekat sekali dengan Ramen Miso terkenal di Sapporo yaitu Ramen Shingen, memang sebelum saya berkunjung ke Hokkaido saya sudah mencari beberapa refrensi makanan yang ingin saya santap saat berada di Hokkaido, salah satunya adalah dari channel Youtube Internationally Me ( https://www.youtube.com/channel/UCW_yDyDfu1bpqDNxeobW02Q ), yup awalnya saya tau Ramen Shingen dari channel ini, thank for your information angela. Kami tiba di Ramen Shingen lebih kurang pukul 15.40 JST antriannya masih belum keluar dari rumah makannya, tapi saat kami antri tentu langsung keluar antriannya secara rombongan kami sebanyak 10 (sepuluh) orang. untuk mejanya sendiri ternyata hanya menampung kalau tidak salah hanya 15 (lima belas) orang, berdasarkan hasil foto  yang saya ambil makanan datang di meja pada pukul 18.05 JST, waktu mengantri ramen ini jujur saya cukup menikmati dan tidak menyadari bahwa ramen yang saya terima begitu lama, mungkin dikarenakan saya masih hype juga di Jepang dan matahari yang masih bersinar, yang kalau dibandingkan jam 18.05 JST itu masih seperti jam 16.00. Ramen Shingen terkenal dengan ramen misonya makanya saya memesan Shinsu (Tasty Miso Ramen) ¥760 (tujuh ratus enam puluh Yen), Large Size Chahan (Fried Rice) ¥540 (lima ratus empat puluh Yen)  dan Gyoza (Fried Dumplings) 5 Pcs ¥380 (tiga ratus delapan puluh Yen). Ukuran porsi ramennya besar banget, worthed lah untuk harga segitu, untuk kalian yang makannya dikit jangan lupa untuk memesan ramen yang porsinya setengah, kalau dimenu ada Half Size ramen ¥540 (lima ratus empat puluh Yen). Bagi kalian yang lihat pesanan saya jangan bingung ya, untuk Chahan dan Gyoza itu saya bagi berempat orang. Untuk pemesanan makan di Jepang biasanya itu satu orang satu menu, jadi sepertinya kurang bisa apabila satu menu dibagi untuk berdua. Kalau untuk tambahan seperti chahan dan gyoza memang dapat saya bagi tapi makanan utama ramen tetap seorang satu. Untuk rasa menurut saya enak, kuah misonya kentel, dagingnya lembut, saya pribadi tidak menambahkan apapun kedalam ramennya karena rasanya sudah kental, nasi goreng dan gyozanya menurut saya enak tapi rasanya kurang berkesan, mungkin karena dari segi wangi dan rasa miso ramennya lebih menojol dibandingkan menu lainnya. Kalau ditanya mau balik lagi tentu saja jawabannya mau.





Setelah selesai makan dari Ramen Shingen karena kami sudah tidak ada rencana kemana-mana lagi maka kami memutuskan untuk berbelanja beberapa kebutuhan yang diperlukan untuk makan besok pagi sebelum akhirnya kembali mengeksplore kota Sapporo, lalu kami mulai mencari supermarket untuk belanja kebutuhan makanan dan juga snack dan sampailah di Marusho, supermarket kecil yang jual beberapa kebutuhan termasuk sayur, daging dan lain-lain. Untuk harga biasa saya kurang tau mahal atau tidak, yang penting tujuannya menghemat biaya makan pagi. Oleh karena Hokkaido sangat terkenal dengan dairy productnya maka kami membeli susu hokkaido ukuran 1 liter, cara memilihnya pun ya karena terdapat gambar peta hokkaido, mungkin itu susu khas daerahnya, untuk namanya saya tidak tahu karena jepang semua, bukan produk yang sering dijual sepertinya karena di supermarket lain yang saya kunjungi tidak ada, bahkan saya balik lagi ke Marusho ini beberapa hari kemudian juga sudah tidak ada, ciri-cirinya kardusnya warna putih dan ada gambar pulau hokkaido warna emas kuning, rasanya agak gurih susu tidak terlalu plain, sayangnya kami memang tidak mencari tau lebih dalam, mungkin lain kali berjodoh bertemu dengan susu tersebut.

Akhirnya hari pertama di Sapporo berakhir, mari kita beristirahat dan mempersiapkan diri untuk kembali melanjutkan perjalanan mengexplore kota Sapporo, Hokkaido




つづく

No comments:

Post a Comment